Selama puluhan tahun, peternakan selalu diukur dengan satu kata kunci: produktivitas. Semakin cepat ternak tumbuh, semakin tinggi produksi susu, dan semakin efisien konversi pakan—maka semakin baik sebuah usaha peternakan. Namun, di tengah perubahan lanskap global yang semakin kompleks, muncul pertanyaan yang jarang diajukan: apakah ternak memang harus selalu menguntungkan secara ekonomi?
Pertanyaan ini bukan sekadar filosofis, melainkan refleksi atas cara kita memahami peternakan itu sendiri.
Produktivitas: Konsep yang Terlalu Disederhanakan
Dalam praktiknya, produktivitas sering direduksi menjadi angka terutama melalui indikator seperti Feed Conversion Ratio (FCR), yaitu rasio antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan output yang dihasilkan. Semakin rendah FCR, semakin efisien ternak tersebut (Beever & Doyle, 2007).
Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan. Ia hanya melihat hasil akhir, tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih luas: kesejahteraan hewan, dampak lingkungan, hingga keberlanjutan sosial peternak.
Padahal, biaya pakan dapat mencapai 60-70 persen dari total biaya produksi dalam usaha peternakan (Wahyudi & Hartono, 2020). Artinya, ketika produktivitas hanya diukur dari output, ada risiko besar peternak terjebak dalam tekanan efisiensi yang justru merugikan dalam jangka panjang.
Antara Efisiensi dan Eksploitasi
Dorongan untuk selalu meningkatkan produktivitas seringkali berujung pada intensifikasi. Ternak dipacu untuk tumbuh lebih cepat, menghasilkan lebih banyak, dan bekerja lebih efisien. Namun di balik itu, muncul pertanyaan etis: apakah efisiensi selalu sejalan dengan kesejahteraan?
Penelitian menunjukkan bahwa intervensi nutrisi dapat meningkatkan efisiensi pakan sekaligus menekan emisi metana (Haque, 2018). Selain itu, teknologi pengolahan pakan mampu meningkatkan kecernaan nutrisi dan efisiensi penggunaan pakan secara signifikan (Mitsumori & Sun, 2008).
Namun, jika efisiensi menjadi satu-satunya tujuan, maka ternak berisiko dipandang semata sebagai mesin biologis bukan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang lebih luas.
Produktivitas vs Keberlanjutan
Peternakan modern kini dihadapkan pada tekanan lingkungan yang semakin besar. Emisi gas rumah kaca dari ternak, khususnya metana, menjadi salah satu isu global yang terus disorot (Gerber et al., 2013).
Di sisi lain, sistem peternakan tradisional memiliki fungsi yang jauh lebih luas:
-
sebagai penghasil pupuk organik
-
sebagai bagian dari ekonomi sirkular
-
sebagai penopang sosial masyarakat pedesaan
Dengan demikian, nilai peternakan tidak selalu dapat direduksi menjadi keuntungan finansial semata.
Menggeser Paradigma: Dari Profit ke Value
Menggugat produktivitas bukan berarti menolak keuntungan, tetapi memperluas makna “nilai” dalam peternakan. Nilai tersebut mencakup:
Pendekatan ini menempatkan produktivitas sebagai alat, bukan tujuan akhir.
Peran Strategis Pakan dalam Paradigma Baru
Di tengah perubahan ini, pakan tetap menjadi faktor penentu dalam sistem peternakan. Lebih dari sekadar input produksi, pakan berperan dalam menentukan kesehatan, efisiensi, dan dampak lingkungan dari usaha ternak.
Formulasi pakan yang tepat dapat meningkatkan performa ternak sekaligus menekan biaya produksi. Oleh karena itu, pemilihan pakan berkualitas menjadi langkah strategis bagi peternak yang ingin bertahan dan berkembang.
Salah satu pendekatan praktis yang mulai banyak diterapkan adalah penggunaan pakan dengan komposisi nutrisi seimbang dan tingkat kecernaan tinggi, seperti SMG Mixfeed. Produk ini dirancang untuk membantu meningkatkan efisiensi pakan, menjaga kesehatan ternak, serta mendukung produktivitas yang lebih stabil.
Dengan pendekatan ini, peternak tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun sistem usaha yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan.
Menuju Peternakan yang Lebih Seimbang
Pada akhirnya, menggugat konsep produktivitas adalah tentang mengembalikan keseimbangan dalam sistem peternakan. Peternakan bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga tentang hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi: Seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan?
melainkan: Seberapa berkelanjutan sistem yang kita bangun?
Di sinilah masa depan peternakan akan ditentukan.
Referensi
Beever, D.E., & Doyle, P.T. (2007). Feed conversion efficiency as a key determinant of livestock production performance.
Gerber, P.J., Steinfeld, H., Henderson, B., Mottet, A., Opio, C., Dijkman, J., Falcucci, A., & Tempio, G. (2013). Tackling climate change through livestock: A global assessment of emissions and mitigation opportunities. FAO.
Haque, M.N. (2018). Dietary strategies to reduce methane emissions from ruminants: A review. Asian-Australasian Journal of Animal Sciences.
Mitsumori, M., & Sun, W. (2008). Control of rumen microbial fermentation for mitigating methane emissions from the rumen. Asian-Australasian Journal of Animal Sciences.
Wahyudi, A., & Hartono, B. (2020). Analisis biaya pakan dalam usaha peternakan sapi potong. Jurnal Peternakan Indonesia.
Liu, H., et al. (2015). Effects of fermented feed on growth performance and carcass quality. Journal of Animal Science.