Perubahan cara makan ternak sering kali dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi salah satu tanda awal adanya gangguan pada kesehatan, manajemen pemeliharaan, maupun kualitas pakan yang diberikan. Oleh karena itu, peternak perlu membiasakan diri untuk mengamati perilaku makan ternak setiap hari agar potensi masalah dapat dikenali lebih awal sebelum berdampak pada produktivitas.
Mengapa Cara Makan Ternak Perlu Diperhatikan?
Cara makan merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan kondisi fisiologis ternak. Ternak yang sehat umumnya memiliki nafsu makan yang baik, mengonsumsi pakan secara teratur, serta menunjukkan aktivitas mengunyah dan memamah biak (ruminasi) yang normal. Sebaliknya, perubahan pada kebiasaan makan dapat menjadi sinyal bahwa ternak sedang mengalami gangguan. Penurunan konsumsi pakan bahkan dalam waktu singkat dapat menyebabkan berkurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Jika kondisi ini terus berlanjut, performa pertumbuhan, produksi susu, efisiensi pakan, hingga daya tahan tubuh ternak dapat menurun.
Perubahan Cara Makan yang Perlu Diwaspadai
Beberapa perubahan perilaku makan yang sebaiknya tidak diabaikan antara lain:
1. Nafsu Makan Menurun
Ternak yang biasanya lahap makan tetapi tiba-tiba mengurangi konsumsi pakan perlu mendapat perhatian. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti gangguan pencernaan, penyakit infeksi, stres akibat cuaca, maupun perubahan lingkungan kandang.
2. Memilih-Milih Pakan
Apabila ternak hanya mengonsumsi bagian tertentu dari pakan dan meninggalkan bagian lainnya, kemungkinan terdapat masalah pada kualitas, aroma, tekstur, atau komposisi ransum. Kebiasaan ini juga dapat menyebabkan asupan nutrisi menjadi tidak seimbang.
3. Berhenti Makan di Tengah Waktu Pemberian Pakan
Perilaku ini dapat mengindikasikan adanya rasa tidak nyaman, gangguan pada mulut atau gigi, maupun gangguan metabolisme. Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan apabila kondisi tersebut berlangsung berulang.
4. Aktivitas Mengunyah Berkurang
Pada sapi, kambing, dan domba, aktivitas memamah biak merupakan bagian penting dari proses pencernaan. Penurunan frekuensi mengunyah cud dapat menjadi indikasi adanya gangguan fungsi rumen atau ketidakseimbangan ransum.
5. Perubahan Konsumsi Air Minum
Ternak yang minum jauh lebih sedikit maupun jauh lebih banyak dari biasanya juga perlu diperhatikan. Perubahan ini dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan, suhu lingkungan, maupun komposisi pakan yang dikonsumsi.
Apa Penyebabnya?
Perubahan cara makan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
- Gangguan pencernaan, seperti asidosis atau kembung.
- Penyakit infeksi maupun gangguan metabolisme.
- Stres akibat perpindahan kandang, cuaca panas, atau kepadatan kandang.
- Kualitas hijauan yang menurun.
- Pergantian pakan secara mendadak tanpa masa adaptasi.
- Ketidakseimbangan nutrisi dalam ransum.
- Ketersediaan air minum yang kurang memadai.
Karena penyebabnya beragam, pengamatan terhadap perilaku makan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan kondisi tubuh ternak, suhu tubuh, aktivitas, serta kondisi feses.
Dampak Jika Tidak Segera Ditangani
Mengabaikan perubahan cara makan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi, seperti:
- Penurunan pertambahan bobot badan.
- Produksi susu yang menurun.
- Efisiensi pemanfaatan pakan menjadi lebih rendah.
- Gangguan reproduksi.
- Meningkatnya risiko penyakit.
- Kerugian ekonomi akibat turunnya produktivitas.
Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin besar peluang ternak untuk kembali pulih dan mempertahankan performanya.
Langkah yang Dapat Dilakukan Peternak
Untuk meminimalkan risiko, peternak dapat menerapkan beberapa langkah berikut:
- Mengamati nafsu makan ternak setiap hari.
- Memberikan pakan dengan kualitas yang baik dan konsisten.
- Menghindari pergantian ransum secara tiba-tiba.
- Menyediakan air minum bersih dalam jumlah yang cukup.
- Menjaga kebersihan kandang dan mengurangi faktor penyebab stres.
- Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan hewan apabila perubahan perilaku makan berlangsung lebih dari satu hari atau disertai gejala lainnya.
Pentingnya Ransum yang Seimbang
Selain faktor kesehatan dan lingkungan, kualitas ransum juga berperan penting dalam menjaga nafsu makan dan fungsi pencernaan ternak. Ransum yang seimbang membantu memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral sehingga ternak dapat menjalankan fungsi tubuhnya secara optimal. Dalam penyusunan ransum, penggunaan konsentrat berkualitas dapat menjadi salah satu komponen pendukung untuk melengkapi nutrisi yang belum terpenuhi dari hijauan. SMG Mixfeed hadir sebagai konsentrat yang diformulasikan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan fase pemeliharaan. Penggunaan SMG Mixfeed tetap perlu disesuaikan dengan jenis ternak, umur, tujuan pemeliharaan, serta dikombinasikan dengan hijauan berkualitas dan manajemen pemeliharaan yang baik agar hasil yang diperoleh lebih optimal.
Referensi
- Ensminger, M.E., & Howard, M.D. (2006). Feeds and Nutrition. The Ensminger Publishing Company.
- National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2021). Nutrient Requirements of Dairy Cattle (8th Revised Edition). Washington, DC: The National Academies Press.
- National Research Council. (2001). Nutrient Requirements of Dairy Cattle (7th Revised Edition). Washington, DC: National Academy Press.
- Owens, F.N., Secrist, D.S., Hill, W.J., & Gill, D.R. (1998). Acidosis in Cattle: A Review. Journal of Animal Science, 76(1), 275–286.
- Van Soest, P.J. (1994). Nutritional Ecology of the Ruminant (2nd Edition). Cornell University Press.