Pernah melihat sapi menjilat tanah, dinding kandang, batu, bahkan kayu? Banyak peternak menganggap perilaku ini sebagai kebiasaan biasa. Padahal, dalam beberapa kondisi, kebiasaan tersebut bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan, terutama terkait kebutuhan nutrisi dan manajemen pemeliharaan. Meskipun tidak selalu menandakan adanya penyakit, perilaku menjilat benda-benda yang bukan pakan (pica) sebaiknya tidak diabaikan. Dengan memahami penyebabnya sejak dini, peternak dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan dan produktivitas ternak.
Apa Itu Perilaku Pica?
Perilaku pica adalah kebiasaan ternak memakan atau menjilat benda-benda yang bukan merupakan pakan, seperti tanah, batu, plastik, kayu, kain, bahkan logam. Pada sapi, perilaku ini sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan nutrisi, meskipun bisa juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan maupun kondisi kesehatan. Sesekali menjilat tanah belum tentu menjadi masalah. Namun, jika dilakukan berulang kali dan berlangsung terus-menerus, peternak perlu mencari penyebabnya.
Penyebab Sapi Sering Menjilat Tanah
1. Kekurangan Mineral
Penyebab yang paling umum adalah defisiensi mineral, terutama fosfor (P), natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan beberapa mineral mikro seperti seng (Zn), tembaga (Cu), maupun kobalt (Co). Ketika kebutuhan mineral tidak terpenuhi dari ransum, sapi secara alami akan mencoba mencari sumber mineral lain dari lingkungan sekitar, termasuk tanah. Kondisi ini lebih sering terjadi apabila hijauan yang diberikan berasal dari lahan dengan kandungan mineral rendah atau pemberian pakan belum dilengkapi mineral tambahan.
2. Ransum Tidak Seimbang
Pakan yang jumlahnya cukup belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Ransum yang rendah protein, energi, maupun mineral dapat menyebabkan metabolisme tubuh terganggu. Akibatnya, sapi menunjukkan perilaku yang tidak biasa, salah satunya menjilat tanah. Karena itu, kualitas pakan sama pentingnya dengan kuantitas pakan.
3. Rasa Bosan dan Kurangnya Aktivitas
Sapi yang dipelihara dalam kandang sepanjang hari dengan aktivitas terbatas dapat mengalami kebosanan. Perilaku menjilat dinding, tanah, atau pagar terkadang muncul sebagai bentuk aktivitas pengganti (stereotypic behavior), terutama jika lingkungan kandang kurang memberikan stimulasi.
4. Gangguan Pencernaan
Gangguan pada saluran pencernaan juga dapat memicu perubahan perilaku makan. Ketidakseimbangan mikroba rumen, perubahan ransum yang terlalu mendadak, maupun gangguan metabolik dapat menyebabkan sapi menunjukkan perilaku abnormal, termasuk menjilat benda-benda di sekitarnya.
5. Kekurangan Garam (Natrium)
Selain fosfor, kekurangan natrium juga cukup sering menyebabkan sapi menjilat tanah. Natrium berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, fungsi saraf, dan kontraksi otot. Apabila kebutuhan natrium tidak terpenuhi, sapi dapat mencari sumber garam dari lingkungan sekitar.
Apakah Berbahaya?
Ya, apabila dibiarkan terus-menerus. Menjilat tanah dapat meningkatkan risiko:
- Masuknya telur cacing dan parasit ke dalam tubuh.
- Tertelannya bakteri penyebab penyakit.
- Mengonsumsi benda asing seperti plastik, kawat, atau pecahan kaca.
- Gangguan saluran pencernaan hingga penyumbatan lambung.
Selain itu, apabila penyebab utamanya adalah kekurangan nutrisi, pertumbuhan dan performa produksi ternak juga dapat menurun.
Cara Mengatasinya
Beberapa langkah yang dapat dilakukan peternak antara lain:
- Evaluasi kualitas dan keseimbangan ransum.
- Pastikan kebutuhan mineral dan garam tercukupi.
- Berikan hijauan dengan kualitas yang baik.
- Hindari perubahan pakan secara mendadak.
- Jaga kebersihan kandang agar tidak banyak benda asing yang dapat dijilat.
- Lakukan pengendalian parasit dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Nutrisi Seimbang Membantu Mencegah Perilaku Pica
Salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko perilaku menjilat tanah adalah memastikan sapi memperoleh ransum yang lengkap dan seimbang sesuai kebutuhan fase produksinya. Konsentrat berkualitas tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi dan protein, tetapi juga membantu melengkapi kebutuhan vitamin serta mineral penting yang mungkin belum tercukupi dari hijauan.
SMG Mixfeed hadir sebagai konsentrat dengan formulasi yang disusun untuk mendukung kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Dipadukan dengan hijauan berkualitas dan manajemen pemeliharaan yang baik, SMG Mixfeed membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian sehingga performa pertumbuhan maupun penggemukan ternak dapat berlangsung lebih optimal.
Referensi
- National Research Council (NRC). 2016. Nutrient Requirements of Beef Cattle. 8th Revised Edition. National Academies Press.
- Merck Veterinary Manual. 2024. Pica in Ruminants.
- Radostits, O.M., Gay, C.C., Hinchcliff, K.W., Constable, P.D. 2007. Veterinary Medicine: A Textbook of the Diseases of Cattle, Horses, Sheep, Pigs and Goats. 10th Edition.
- Underwood, E.J. & Suttle, N.F. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock. 3rd Edition. CABI Publishing.
- Ensminger, M.E. & Perry, R.C. 2015. Beef Cattle Science. Interstate Publishers.