Hijauan merupakan salah satu komponen utama dalam ransum ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Meski terlihat sederhana, kualitas hijauan sangat dipengaruhi oleh umur panennya. Tidak sedikit peternak yang beranggapan bahwa hijauan yang masih sangat muda selalu lebih baik, atau sebaliknya memilih hijauan yang sudah tua karena hasil panennya lebih banyak. Padahal, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lalu, hijauan yang terlalu muda atau terlalu tua, mana yang sebenarnya lebih baik untuk ternak?
Hijauan Terlalu Muda: Kaya Nutrisi, Tetapi Ada Risikonya
Hijauan yang dipanen pada umur muda umumnya memiliki kandungan protein kasar yang lebih tinggi serta lebih mudah dicerna oleh ternak. Daunnya masih lunak sehingga lebih disukai dan konsumsi pakan biasanya meningkat. Namun, hijauan yang terlalu muda juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:
- Kandungan serat efektif masih rendah sehingga aktivitas mengunyah dan proses fermentasi di dalam rumen kurang optimal.
- Kadar air sangat tinggi, sehingga bahan kering yang benar-benar dikonsumsi ternak menjadi lebih sedikit.
- Pada jenis hijauan tertentu, konsumsi dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan seperti kembung (bloat), terutama jika diberikan tanpa penyesuaian.
Karena itu, hijauan yang terlalu muda sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber pakan bagi ternak.
Hijauan Terlalu Tua: Produksi Banyak, Kualitas Menurun
Sebaliknya, hijauan yang dipanen terlalu tua memang menghasilkan biomassa lebih banyak. Akan tetapi, seiring bertambahnya umur tanaman, kandungan serat seperti lignin juga meningkat. Akibatnya:
- Kecernaan hijauan menurun.
- Kandungan protein menjadi lebih rendah.
- Daun mulai berkurang dan batang menjadi lebih keras.
- Ternak membutuhkan waktu lebih lama untuk mengunyah sehingga konsumsi pakan dapat menurun.
Hijauan yang terlalu tua memang tetap dapat dimanfaatkan, tetapi nilai nutrisinya tidak sebaik hijauan yang dipanen pada umur optimal.
Jadi, Kapan Waktu Panen yang Ideal?
Secara umum, hijauan sebaiknya dipanen pada fase vegetatif atau sebelum tanaman memasuki fase berbunga penuh. Pada fase ini, keseimbangan antara kandungan protein, energi, dan serat masih cukup baik sehingga mampu mendukung kebutuhan nutrisi ternak. Sebagai gambaran:
- Rumput gajah umumnya dipanen pada umur sekitar 40–60 hari, tergantung kondisi lahan, musim, dan tingkat kesuburan tanah.
- Rumput odot biasanya dipanen pada umur sekitar 35–45 hari.
- Hijauan leguminosa juga sebaiknya dipanen sebelum terlalu tua agar kandungan proteinnya tetap tinggi.
Waktu panen dapat berbeda pada setiap daerah dan jenis tanaman, sehingga pengamatan terhadap kondisi pertumbuhan hijauan tetap diperlukan.
Hijauan Berkualitas Tetap Perlu Didukung Konsentrat
Hijauan yang dipanen pada umur ideal memang mampu menyediakan serat yang dibutuhkan ternak. Namun, pada fase pertumbuhan cepat, penggemukan, bunting, maupun laktasi, kebutuhan nutrisi ternak sering kali tidak dapat dipenuhi hanya dari hijauan. Oleh karena itu, pemberian konsentrat yang disusun secara seimbang dapat membantu melengkapi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan ternak. Kombinasi hijauan berkualitas dengan konsentrat yang tepat juga dapat membantu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan serta mendukung performa ternak secara optimal.
SMG Mixfeed dapat menjadi salah satu pilihan konsentrat yang melengkapi ransum hijauan. Dengan formulasi yang disesuaikan untuk berbagai fase pemeliharaan ternak ruminansia, SMG Mixfeed dapat membantu peternak menyusun ransum yang lebih seimbang sehingga kebutuhan nutrisi ternak dapat terpenuhi secara lebih optimal. Tentu, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan umur, jenis, dan tujuan pemeliharaan ternak.
Referensi
- Van Soest, P. J. (1994). Nutritional Ecology of the Ruminant (2nd Edition). Cornell University Press.
- National Research Council (2001). Nutrient Requirements of Dairy Cattle (7th Revised Edition). National Academies Press.
- McDonald, P., Edwards, R. A., Greenhalgh, J. F. D., Morgan, C. A., Sinclair, L. A., & Wilkinson, R. G. (2011). Animal Nutrition (7th Edition). Pearson Education.
- Food and Agriculture Organization (FAO). (2018). Grassland Index: A Searchable Catalogue of Grass and Forage Legumes.
- Minson, D. J. (1990). Forage in Ruminant Nutrition. Academic Press.