Peningkatan populasi ternak di Indonesia dari tahun ke tahun sering dianggap sebagai indikator kemajuan sektor peternakan. Namun di lapangan, banyak peternak justru merasakan kondisi usaha yang stagnan. Jumlah ternak bertambah, tetapi pendapatan tidak ikut meningkat secara signifikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Artikel ini membahas faktor-faktor utama penyebab stagnasi usaha peternakan meskipun populasi ternak terus meningkat, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi peternak untuk melakukan perbaikan ke depan.
Pertumbuhan Populasi Tidak Selalu Sejalan dengan Produktivitas
Banyak peternak berfokus pada penambahan jumlah ternak dengan harapan produksi dan pendapatan ikut naik. Padahal, tanpa manajemen yang tepat, peningkatan populasi justru dapat menurunkan produktivitas.
Kepadatan kandang yang berlebihan, kualitas pakan yang tidak disesuaikan, serta stres pada ternak dapat menyebabkan penurunan performa. Akibatnya, produksi susu, pertambahan bobot badan, maupun tingkat reproduksi tidak optimal. Dalam kondisi ini, biaya meningkat sementara hasil tidak sebanding.
Biaya Pakan Tinggi dan Efisiensi yang Masih Rendah
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan, mencapai sekitar 60–70% dari total biaya produksi. Ketika populasi ternak bertambah, kebutuhan pakan meningkat secara signifikan. Sayangnya, banyak peternak masih menghadapi masalah seperti pemborosan pakan, formulasi ransum yang tidak seimbang, serta ketergantungan pada bahan pakan dengan harga tinggi.
Tanpa pengelolaan pakan yang efisien dan berbasis kebutuhan nutrisi ternak, peningkatan populasi justru memperbesar beban biaya dan menekan keuntungan.
Fokus pada Kuantitas, Mengabaikan Kualitas Ternak
Stagnasi juga terjadi karena sebagian peternak lebih mengejar jumlah ternak dibandingkan kualitasnya. Seleksi bibit, pemantauan kesehatan, dan evaluasi performa individu ternak sering kali kurang mendapat perhatian.
Akibatnya, meskipun populasi meningkat, rata-rata produktivitas ternak tetap rendah. Kondisi ini membuat hasil usaha tidak berkembang dan sulit bersaing, terutama di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Manajemen Kandang yang Masih Konvensional
Banyak usaha peternakan rakyat masih dikelola secara tradisional. Pencatatan produksi tidak dilakukan secara rutin, pemantauan konsumsi pakan diabaikan, dan manajemen kesehatan cenderung bersifat reaktif, bukan preventif.
Tanpa data yang jelas, peternak kesulitan mengevaluasi kinerja usahanya. Kebocoran biaya sering tidak disadari, dan peluang peningkatan efisiensi terlewatkan.
Harga Jual Tidak Stabil dan Lemahnya Daya Tawar
Di sisi pemasaran, peternak sering dihadapkan pada harga jual yang fluktuatif. Baik pada usaha sapi potong maupun sapi perah, harga sering kali ditentukan oleh pasar atau perantara, sementara posisi tawar peternak relatif lemah.
Kondisi ini membuat peningkatan biaya produksi tidak selalu dapat diimbangi dengan kenaikan harga jual. Tanpa strategi kemitraan dan pemasaran yang baik, peternak sulit meningkatkan margin keuntungan.
Kurangnya Adaptasi terhadap Inovasi Peternakan
Perkembangan teknologi dan inovasi di bidang peternakan sebenarnya membuka banyak peluang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Mulai dari formulasi pakan berbasis nutrisi, manajemen kesehatan preventif, hingga pencatatan produksi yang lebih rapi dan sederhana.
Namun, stagnasi sering terjadi ketika peternak belum atau tidak mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Akibatnya, usaha peternakan berjalan dengan pola lama yang kurang kompetitif.
Kesimpulan
Bertambahnya populasi ternak tidak secara otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan peternak. Tanpa perbaikan pada manajemen pakan, kualitas ternak, sistem pemeliharaan, dan strategi usaha, penambahan populasi justru berpotensi meningkatkan risiko kerugian.
Kunci agar usaha peternakan tidak stagnan terletak pada fokus terhadap produktivitas dan efisiensi, bukan semata-mata pada jumlah ternak. Peternakan yang berkelanjutan adalah peternakan yang dikelola dengan baik, berbasis data, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.