Mengapa Banyak Peternak Stagnan Padahal Populasi Ternak Bertambah?

03 Februari 2026 Dilihat: 21x

Peningkatan populasi ternak di Indonesia dari tahun ke tahun sering dianggap sebagai indikator kemajuan sektor peternakan. Namun di lapangan, banyak peternak justru merasakan kondisi usaha yang stagnan. Jumlah ternak bertambah, tetapi pendapatan tidak ikut meningkat secara signifikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Artikel ini membahas faktor-faktor utama penyebab stagnasi usaha peternakan meskipun populasi ternak terus meningkat, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi peternak untuk melakukan perbaikan ke depan.

Pertumbuhan Populasi Tidak Selalu Sejalan dengan Produktivitas

Banyak peternak berfokus pada penambahan jumlah ternak dengan harapan produksi dan pendapatan ikut naik. Padahal, tanpa manajemen yang tepat, peningkatan populasi justru dapat menurunkan produktivitas.

Kepadatan kandang yang berlebihan, kualitas pakan yang tidak disesuaikan, serta stres pada ternak dapat menyebabkan penurunan performa. Akibatnya, produksi susu, pertambahan bobot badan, maupun tingkat reproduksi tidak optimal. Dalam kondisi ini, biaya meningkat sementara hasil tidak sebanding.

Biaya Pakan Tinggi dan Efisiensi yang Masih Rendah

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan, mencapai sekitar 60–70% dari total biaya produksi. Ketika populasi ternak bertambah, kebutuhan pakan meningkat secara signifikan. Sayangnya, banyak peternak masih menghadapi masalah seperti pemborosan pakan, formulasi ransum yang tidak seimbang, serta ketergantungan pada bahan pakan dengan harga tinggi.

Tanpa pengelolaan pakan yang efisien dan berbasis kebutuhan nutrisi ternak, peningkatan populasi justru memperbesar beban biaya dan menekan keuntungan.

Fokus pada Kuantitas, Mengabaikan Kualitas Ternak

Stagnasi juga terjadi karena sebagian peternak lebih mengejar jumlah ternak dibandingkan kualitasnya. Seleksi bibit, pemantauan kesehatan, dan evaluasi performa individu ternak sering kali kurang mendapat perhatian.

Akibatnya, meskipun populasi meningkat, rata-rata produktivitas ternak tetap rendah. Kondisi ini membuat hasil usaha tidak berkembang dan sulit bersaing, terutama di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Manajemen Kandang yang Masih Konvensional

Banyak usaha peternakan rakyat masih dikelola secara tradisional. Pencatatan produksi tidak dilakukan secara rutin, pemantauan konsumsi pakan diabaikan, dan manajemen kesehatan cenderung bersifat reaktif, bukan preventif.

Tanpa data yang jelas, peternak kesulitan mengevaluasi kinerja usahanya. Kebocoran biaya sering tidak disadari, dan peluang peningkatan efisiensi terlewatkan.

Harga Jual Tidak Stabil dan Lemahnya Daya Tawar

Di sisi pemasaran, peternak sering dihadapkan pada harga jual yang fluktuatif. Baik pada usaha sapi potong maupun sapi perah, harga sering kali ditentukan oleh pasar atau perantara, sementara posisi tawar peternak relatif lemah.

Kondisi ini membuat peningkatan biaya produksi tidak selalu dapat diimbangi dengan kenaikan harga jual. Tanpa strategi kemitraan dan pemasaran yang baik, peternak sulit meningkatkan margin keuntungan.

Kurangnya Adaptasi terhadap Inovasi Peternakan

Perkembangan teknologi dan inovasi di bidang peternakan sebenarnya membuka banyak peluang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Mulai dari formulasi pakan berbasis nutrisi, manajemen kesehatan preventif, hingga pencatatan produksi yang lebih rapi dan sederhana.

Namun, stagnasi sering terjadi ketika peternak belum atau tidak mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Akibatnya, usaha peternakan berjalan dengan pola lama yang kurang kompetitif.

Kesimpulan

Bertambahnya populasi ternak tidak secara otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan peternak. Tanpa perbaikan pada manajemen pakan, kualitas ternak, sistem pemeliharaan, dan strategi usaha, penambahan populasi justru berpotensi meningkatkan risiko kerugian.

Kunci agar usaha peternakan tidak stagnan terletak pada fokus terhadap produktivitas dan efisiensi, bukan semata-mata pada jumlah ternak. Peternakan yang berkelanjutan adalah peternakan yang dikelola dengan baik, berbasis data, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Share:
Facebook
Whatsapp

Hymne CV Sinar Mentari Group

Mars CV Sinar Mentari Group

Family Gathering SMG 2026

Testimoni

Cerita Kepuasan Pelanggan

Saya sangat puas dengan hasil yang didapat setelah menggunakan pakan konsentrat dari SMG MIXFEED S20. Sapi- sapi saya menjadi lebih sehat dan produktif, produksi susu juga meningkat drastis. Saya merekomendasikan SMG MIXFEED S20 kepada para peternak lain.

foodsto-user

Saya pakai pakan konsentrat dari SMG MIXFEED S18 selama 2 tahun terakhir dan hasilnya sangat memuaskan. Sapi-sapi menjadi lebih sehat dan produktif dan pakan konsentrat ini sangat mudah dicerna. Hal ini sangat membantu dalam menghemat biaya pakan.

foodsto-user

Dengan SMG Mixfeed S20 produksi susu sapi perah saya sangat meningkat drastis, karena kandungan protein yang tinggi menjadikan ternak lebih sehat. Bagi para peternak sapi perah yang lain, dapat dicoba pakan konsentrat ini untuk meningkatkan hasil produksi susu sapi perah Anda.

foodsto-user
Kemitraan

Keuntungan Ekslusif yang Didapatkan di SMG Mixfeed

Syarat Anti Ribet

Cukup dengan mengisi Form Agen dibawah, maka Tim SMG akan segera menghubungi anda.

Harga Bersahabat

Dengan bergabung menjadi mitra SMG Mixfeed maka anda mendapatkan harga yang sangat cocok untuk dijual kembali.

Kualitas Produk Tinggi

Solusi pakan dengan bahan baku terpilih dan diformulasikan tepat sesuai kebutuhan sehingga dapat memaksimalkan produksi ternak anda.

Dukungan Optimal

Tim SMG siap melayani Anda selama 24 jam penuh baik secara online maupun bertemu langsung secara offline.